Karakteristika Ekologi Perairan Mengalir Dengan Budidaya Ikan Di Saluran Irigasi Tarum Utara, Jatiluhur

DSpace/Manakin Repository

Karakteristika Ekologi Perairan Mengalir Dengan Budidaya Ikan Di Saluran Irigasi Tarum Utara, Jatiluhur

Show full item record

Title: Karakteristika Ekologi Perairan Mengalir Dengan Budidaya Ikan Di Saluran Irigasi Tarum Utara, Jatiluhur
Author: Zainal, Sutandar
Abstract: A non-experimental study based on ex-post facto methods on the ecological characteristics of lotic-water system used for fish cultivation in Tarum Utara irrigation canals had been conducted from October 1998 up to October 2000. Variables observed were collected fortnightly both in the dry and wet season from selected sampling sites at 14 km actual length of the canals, i.e. source waters of Walahar dam, Tarum Utara primary canals, and Kawista secondary canals where units of fish cultivation (sariban) were placed. Three fish species, i.e. pangasius, java-carp, and nile tilapia at initial biomass of 15 kg, 30 kg, and 45 kg were cultivated for 10 weeks in the sariban sized 6 m x 37,5 m which was splitted into 9 parts, each three parts randomly used for each fish species. Sampling station for the study of the effects of sariban at downstream waters were considered based on exponential distance. Ecological characteristics of the canals and similarities between the stations were evaluated based on the agglomerative hierarchy of average linkage clustering using an unweighted pair group methods analysis. To evaluate the variation in the ecological characteristics between the stations, a multivariate analysis based on Principal Component Analysis were used as well as Correspondence Analysis for the spatial distribution of plankton and macro-zoobenthos related to the characteristics. Carrying capacity of the irrigation canals for fish cultivation were estimated based on mass equilibrium concept model for ammonia concentration. Results of the study showed that hydromorphometric of the source and upstream waters determined the availability of natural foods in the canals. The flowing water reduced the effects of sariban on the downstream water quality, as it were indicated by high similarity of variables amongs the stations and the seasons. Predominant natural foods in Tarum Utara irrigation canals were plant debris and detritus related to the high density of aquatic vegetation in the source water. Potentials for natural foods were water hyacinth (Eichhornia crassipes), water-lettuce (Pistia stratiotes), cat-tails (Thypa angustifolia), and water-fern (Salvinia molesta) at SDR value 31,1%, 13,60%, 17,3%, and 30,8% respectively, while the riparians are primrose willow (Ludwigia ascendens) and torpedo grass (Panicum repens) at 17,3% and 6,48%.. A moderate diversity of plankton in the canals in the wet season (H'= 4,33-4,82) and in the dry season (H'= 3,38-3,92) were performed. Plankton abundance (513-1240 Ind.L-1 in the wet season and 553-2158 Ind.L-1 in the dry season) were dominated by phytoplankton groups of Chlorophyta (22,81%-25,86%) and Chrysophyta (18,87%-19,30%) and zooplankton by Protozoa (8,62%-14,04%) and Rotifera. 10,34%-10,53%). Compared to that of plankton, macrozoobenthos was much more identical, indicates no species dominance, more stable community, and regular trophic status. Diversity of macrozoobenthos was low to moderate either in wet (H'=2,40-4,24) or dry season (H'=1,01-2,94). Principal Component Analysis showed that width and depth of the waters as well as sand fraction of the sediment, besides water velocity, nitrite, and phosphate appeared as the important factors determining the water and sediment quality related to the abundance of plankton and macro-zoobenthos. Additionally, Correspondence Analysis performed that there was no clear association between species of the organisms with the stations and period of observation, so that no clear spatial variation of the variables were indicated. High growth were performed by java-carp stocked at low to moderate density (0.2 to 0,4 kg.m-2) while nile tilapia and pangasius were at low density. Based on the suitability of ammonia concentration at 0.1 mg.L-1, only 2.89% or 1.4011 ha of the total surface area of Tarum Utara down to Kawista secondary canals can be used for fish cultivation at the biomass of 4 ton.ha-1 within three months periods. Accordingly, for the size of sariban of 500 m2, a recommended distant between units of sariban in the canals should be at least 500 m.
Description: Penelitian non-eksperimental mengenai karakteristika ekologi perairan mengalir dengan budidaya ikan di saluran Irigasi Tarum Utara Jatiluhur, telah dilaksanakan dari bulan Oktober 1998 sampai Oktober 2000 dengan menggunakan metode ex-post facto. Variabel penelitian diambil dari stasiun pengamatan terpilih pada saluran irigasi sepanjang 14 km, mencakup perairan sumber bendung Walahar, saluran primer Tarum Utara, dan saluran sekunder Kawista yang digunakan untuk budidaya ikan (sariban). Ikan jambal, tawes, dan nila dengan biomassa awal masing-masing 15 kg, 30 kg, dan 45 kg, dibudidaya selama 10 minggu dalam sariban berukuran 16mx 37,5 m yang disekat menjadi 9 petak, masing-masing 3 petak acak untuk tiap jenis ikan. Stasiun pengamatan untuk penelitian dampak sariban ditetapkan berdasar jarak eksponensial ke arah hilir unit sariban. Kesamaan karakteristika ekologi di antara stasiun pengamatan ditelaah berdasar dendrogram keterkaitan rata-rata secara hirarki aglomeratif dengan metode pengelompokan pasangan tanpa pembobotan. Variasi karakteristika antar stasiun dikaji dengan analisis multivariat yang didasarkan pada Analisis Komponen Utama sedangkan sebaran spasial plankton dan zoobenthos makro dievaluasi berdasarkan Analisis Faktorial Korespondensi. Pendugaan daya dukung saluran irigasi untuk budidaya ikan dihitung berdasarkan konsep model keseimbangan kandungan ammonium. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hidromorfometrik perairan sumber dan perairan bagian hulu mempengaruhi ketersediaan bahan pakan alami di saluran irigasi. Aliran air dapat meredusir penurunan kualitas air dan biomassa pakan alami di perairan bagian hilir sebagai akibat dari budidaya ikan. Bahan pakan alami yang predominan di saluran irigasi adalah serasah dan detritus yang berasal dari perairan sumber. Vegetasi potensial sebagai bahan pakan alami adalah eceng gondok (Eichhornia crassipes), kiapu (Pistia stratiotes), ekor kucing (Thypa augustifolia), dan kiambang (Salvinia molesta) masing-masing dengan nilai SDR 31,1%, 13,60%, 17,3%, dan 30,8% sedangkan vegetasi riparian adalah mawar senja (Ludwigia ascendens) dan rumput torpedo (Panicum repens) dengan SDR 17,3% dan 6,48%. Pada kedua musim, plankton di saluran irigasi menunjukkan keragaman sedang masing-masing dengan indeks keragaman (H') 4,33-4,82 pada musim hujan dan 3,38-3,92 pada musim kemarau. Plankton, dengan kelimpahan 513-1240 Ind.L-1(musim hujan) dan 553-2158 Ind.L-1 (musim kemarau) didominasi oleh fitoplankton dari kelompok Chlorophyta (22,81%-25,86%) dan Chrysophyta (18,97%-19,30%) dan oleh zooplankton dari Protozoa (8,62%-14,04%) dan Rotifera (10,34%-10,53%). Berbeda dengan plankton, populasi zoobenthos makro lebih identik yang menunjukkan tidak adanya dominansi dengan komunitas yang lebih stabil dan trofik yang teratur. Keragaman zoobenthos makro termasuk rendah sampai sedang, yaitu H' sebesar 2,40-4,24 pada musim hujan dan 1,01-2,94 pada musim kemarau. Hasil analisis komponen utama menunjukkan bahwa lebar dan kedalaman perairan serta fraksi pasir pada sedimen, selain juga kecepatan aliran air, nitrit, dan fosfat merupakan faktor yang berperan pada kualitas air dan sedimen dalam kaitannya dengan kelimpahan plankton dan zoobenthos makro. Namun demikian, hasil analisis korespondensi menunjukan tidak adanya asosiasi yang jelas di antara spesies plankton dan zoobenthos makro dengan stasiun dan waktu pengamatan yang memberikan indikasi rendahnya variasi spasial di antara variabel penelitian. Pertumbuhan mutlak yang tinggi untuk ikan jambal dan nila diperoleh dari penebaran dengan kepadatan rendah, masing-masing jambal (0,1 kg.m-2) dan nila (0,3 kg.m-2) sedangkan tawes dengan kepadatan rendah (0,2 kg.m-2) hingga sedang (0,4 kg.m-2). Berdasarkan kelayakan kandungan ammonium di perairan sebesar 0,1 mg.L-1, maka hanya 2,89% atau 1,0411 ha dari luas total perairan saluran induk Tarum Utara hingga saluran sekunder Kawista yang dapat dimanfaatkan untuk budidaya ikan dengan biomasssa ikan sebanyak 4 ton.ha-1 selama periode tiga bulan. Mengingat perhitungan tersebut, maka dengan unit sariban seluas 500 m2, jarak layak antara unit sariban minimal adalah 500 m.
URI: http://repository.unpad.ac.id/handle/123456789/3222
Date: 2002-02-05


Files in this item

Files Size Format View

There are no files associated with this item.

This item appears in the following Collection(s)

Show full item record

Search DSpace


Advanced Search

Browse

My Account